Jakarta (ANTARA) – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berupaya memulangkan Saifuddin Ibrahim, tersangka ujaran kebencian berisi SARA yang meminta Menteri Agama menghapus 300 ayat Alquran.

“Kami masih berupaya memulangkan tersangka melalui kerja sama antara Polri dan FBI,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Menurut Dedi, Polri melalui Divisi Hubungan Internasional (Hubinter) terus berkomunikasi dengan aparat penegak hukum di Amerika Serikat untuk memulangkan tersangka Saifuddin Ibrahim ke Tanah Air.

“Belum (ditangkap) karena otoritas AS, jadi terus komunikasikan dengan aparat penegak hukum di sana. Nanti kalau ada keterangan lebih lanjut akan disampaikan,” kata Dedi.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polri Komjen Pol Agus Andrianto menyatakan Polri belum mendapat tanggapan dari otoritas AS untuk menangkap Saifuddin Ibrahim yang diduga berada di Amerika Serikat.

Menurutnya, pihak berwenang Amerika Serikat tidak bisa menahan Saifuddin Ibrahim karena tidak ada aturan yang dilanggar di negeri Paman Sam itu. Namun, Polri berusaha menangkapnya dengan memberikan informasi kepada Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia terkait pelanggaran hukum yang dilakukan Saifuddin Ibrahim di negara tersebut.

Baca juga: 13 Saksi Diperiksa Karena Penodaan Agama oleh Saifuddin Ibrahim
Baca juga: Bareskrim Polri Tetapkan Saifuddin Ibrahim sebagai Tersangka
Baca Juga: Mahfud MD Minta Polisi Tindak Saifuddin Ibrahim Atas Penodaan Agama

“Upaya masih dilakukan dengan menginformasikan Kedutaan Besar AS di Indonesia bahwa data aplikasi visa memiliki pertanyaan apakah dia telah divonis suatu kasus (SI dihukum di Pengadilan Negeri Tangerang dalam kasus yang sama). (Kemungkinan) informasinya tidak diisi dengan benar,” kata Agus.

Agus menambahkan, saat ini Polri hanya bisa menunggu respon dari pihak berwenang Amerika Serikat untuk menangkap Saifuddin Ibrahim.

“Kami lebih pasif menunggu tanggapan mereka, kami tidak memiliki kewenangan ketika wilayah hukumnya bukan di wilayah Polri,” kata Agus.

Polri menetapkan Saifuddin Ibrahim sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana ujaran kebencian yang mengandung SARA. Dalam perkara ini penyidik ​​telah memeriksa 13 orang saksi, terdiri dari 9 orang saksi, 4 orang saksi ahli (ahli bahasa, ahli agama Islam, ahli ITE dan ahli pidana).

Penyidik ​​juga memeriksa barang bukti berupa konten YouTube Saifuddin Ibrahim.

Dalam kasus ini, penyidik ​​Bareskrim Polri menerima tiga laporan polisi, yakni dua laporan pada 18 Maret dan satu laporan pada 22 Maret. Bahkan pada tanggal tersebut, penyidik ​​telah menaikkan status kasus ke tahap penyidikan.

Saifuddin Ibrahim didakwa melakukan tindak pidana ujaran kebencian berdasarkan SARA dan/atau pencemaran nama baik dan/atau penodaan agama dan/atau pemberitaan yang tidak benar dengan sengaja membuat keributan di tengah masyarakat dan/atau menyiarkan berita yang tidak pasti dan berlebihan melalui YouTube Sauifuddin Ibrahim sesuai dengan Pasal 45 ayat (1) jo. Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Pastor Saifuddin Ibrahim menjadi viral setelah video yang beredar di media sosial itu diprotes banyak pihak.

Saifuddin, dalam video viral, meminta Menteri Agama menghapus 300 ayat Alquran yang dicetak di Indonesia.

Sejauh ini, video tersebut tidak lagi ditemukan di akun Youtube pribadi Saifuddin Ibrahim, namun rekamannya telah tersebar di berbagai media sosial, seperti Twitter dan Youtube.

Saifuddin Ibrahim belum bisa dimintai konfirmasi terkait hal ini.

Reporter: Laily Rahmawaty
Redaktur: M Arief Iskandar
HAK CIPTA © ANTARA 2022

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published.