Pulihkan Bersama, Pulihkan Lebih Kuat adalah tema yang sangat relevan karena dunia kurang lebih terpolarisasi karena pandemi dan krisis Ukraina,

Jakarta (ANTARA) – G20 merupakan momen untuk mengatasi dikotomi antara negara maju dan berkembang, kata Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kenji Kanasugi saat wawancara khusus dengan ANTARA di Jakarta, Rabu.

G20 adalah forum internasional yang terdiri dari 19 negara besar dan Uni Eropa yang bekerja sama untuk menangani isu-isu besar. Indonesia memegang Kepresidenan G20 tahun ini.

Selain memperhatikan level antara negara maju dan berkembang, G20 harus fokus pada isu-isu yang dihadapi semua negara, katanya.

Masalah yang dihadapi baik negara maju maupun berkembang termasuk dalam tiga tema yang diangkat Indonesia di G20: arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi.

Isu lain yang dapat didiskusikan oleh negara maju dan berkembang dalam Kepresidenan G20 Indonesia adalah Sustainable Development Goals (SDGs).Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ SDGs), Perjanjian Paris, dan perubahan iklim, katanya.

“Negara maju dan berkembang adalah pemangku kepentingan, jadi mereka adalah mitra yang setara, dan mereka harus menjalankan tanggung jawab masing-masing dalam suatu kerangka kerja,” katanya.

“Saya pikir G20 sangat dekat dengan kerangka itu sehingga negara berkembang dan negara maju menjalankan tanggung jawabnya dan berusaha membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik,” lanjutnya.

Berkaitan dengan itu, ia berpendapat bahwa tema G20 Indonesia, Sembuh Bersama, Pulihkan Lebih Kuat, adalah tema relevan yang dapat menyatukan dunia kita yang terpisah.

“Jadi, saya pikir itu Sembuh Bersama, Sembuh kuatr adalah tema yang sangat relevan karena dunia sedikit banyak terpolarisasi akibat pandemi dan krisis Ukraina,” jelasnya.

“Oleh karena itu, saya pikir ini adalah tema yang tepat untuk menyatukan dunia kembali,” katanya.

Selain itu, Jepang menyatakan dukungan penuh kepada Indonesia dan berharap keberhasilan Presidensi G20 Indonesia, kata Dubes.

Dikatakannya, Indonesia menggelar G20 dalam kondisi yang cukup sulit akibat krisis Ukraina dan tuan rumah juga harus berhadapan dengan partisipasi Rusia.

“Hubungan kami dengan Rusia tidak dapat berjalan seolah-olah tidak ada yang terjadi di Ukraina dan saya tidak berpikir proses G20 dapat berhasil. bisnis seperti biasa,” dia berkata.

Reporter: Fadhli Ruhman
Editor: Mulyo Sunyoto
HAK CIPTA © ANTARA 2022

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published.